Tata Cara Upacara Pernikahan Adat Jawa
LAPORAN
ETIKET PROTOKOL
“TATA CARA DAN ETIKET PROTOKOL PROSESI PERNIKAHAN
ADAT JAWA”
ADAT JAWA”
Dosen
Pengampu:
Ibu
Dra. Lilik Werti, M.Par.
Disusun
oleh:
Dea
Ayu Natasia
SEKOLAH
TINGGI ILMU PARIWISATA INDONESIA
(STIEPARI)
2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya Kami dapat menyelesaikan Tugas Laporan tentang “Tata
Cara dan Etiket Protokoler dalam Prosesi Pernikahan Adat Jawa” untuk mengetahui
bagaimana kita terlibat sebagai protokoler di dalam acara Pernikahan Adat Jawa
tersebut dengan baik meskipun banyak kekurangan di dalamnya. Dan juga kami
berterima kasih kepada Ibu Dra. Lilik Werti, M.Par. selaku Dosen mata kuliah
Etiket Protokol STIEPARI yang telah member tugas ini kepada kami.
Saya
sangat berharap Laporan ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai bagaimana Upacara Pernikahan Adat Jawa ini. Saya juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam Laporan ini terdapat kekurangan dan jauh dari
kata sempurna. Oleh karena itu saya berharap adanya kritik, saran, dan usulan
demi perbaikkan Laporan yang akan saya buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga
laporan ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan
yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda
demi perbaikan Laporan ini di waktu yang akan datang.
Semarang, 26 Oktober 2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Manusia diciptakan berpasang-pasangan dengan harapkan mampu hidup
berdampingan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Dari sini tampak bahwa sampai
kapan pun, manusia tidak mampu hidup seorang diri, tanpa bantuan dan kehadiran
orang lain.
Salah satu cara yang dipakai untuk melambangkan bersatunya dua insan yang
berlainan jenis dan sah menurut agama dan hukum adalah pernikahan.
Masing-masing daerah mempunyai tata upacara pernikahannya sendiri-sendiri.
Ritual perkawinan adat
Jawa sebagai jenjang yang harus dilalui seseorang sebelum memasuki kehidupan
rumah tangga yang sebenarnya, merupakan upacara sakral yang berisi ungkapan
mengenai adat, sikap jiwa, alam pikiran dan pandangan rohani yang berpangkal
tolak dari budaya Jawa. Ritual upacara sakral ini merupakan salah satu kekayaan
budaya daerah yang di dalamnya terkandung nilai-nilai etika Jawa yang sangat
mendalam. Nilai-nilai etika tersebut menjadi pedoman atau dasar bagi keutamaan
watak susila Kejawen dalam budaya Jawa. Suatu ritual perkawinan adat
tradisional merupakan saat yang paling penting dan menentukan karena merupakan
masa peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya. Ritual perkawinan adalah
crisis ritus (upacara di saat krisis) dan rite passage (upacara di masa
peralihan) yang memiliki fungsi sosial yaitu menyatakan kepada khalayak luas tingkat
hidup baru yang telah dicapai individu yang bersangkutan (Koentjaraningrat,
1981:90).
Namun fenomena yang
terjadi belakangan ini adalah bahwa ritual sakral perkawinan adat Jawa hanya
dilakukan dengan alasan menurut tradisi memang tidak dapat ditinggalkan, karena
merasa bahwa seseorang itu merupakan anggota bagian dari komunitasnya untuk
meningkatkan prestise keluarga. Di kalangan generasi muda terutama dalam
masyarakat Jawa, sebagai anggota komunitas Jawa yang mewarisi tradisi
budayanya, kini mengalami pergeseran budaya atau terjadi kesenjangan (gap) dalam
hal memaknai arti ritual sakral perkawinan adat Jawa.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa yang di
maksud dengan Pernikahan?
2.
Bagaimana
peranan Etiket Protokoler dalam Proses Pernikahan Adat Jawa, meliputi (Tata Upacara,
Tata Ruang, Tata Busana, Tata Warkat)
1.3
Tujuan
Karena menjaga, memelihara, dan melestarikan
kebudayaan atau adat istiadat merupakan kewajiban setiap individu, disisi lain
adat istiadat atau tradisi yang menjadi ciri khas setiap daerah mulai sedikit
luntur dengan adanya budaya modern. Maka dalam realisasinya saya mencoba
menyusun laporan yang bertema pernikahan adat jawa ini dan mengetahui bagaimana
upacara itu berlangsung, bagaimana cara persiapannya, apa saja yang di
persiapkan dan lain sebagainya yang tentunya mengangkat 4 hal penting dalam
protokoler yaitu tata upacara, tata ruang, tata busana, dan tata warkat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Pernikahan
Pernikahan adalah suatu rangkaian upacara yang dilakukan sepasang kekasih
untuk menghalalkan semua perbuatan yang berhubungan dengan kehidupan
suami-istri guna membentuk suatu keluarga dan meneruskan garis keturunan. Guna
melakukan prosesi pernikahan, orang Jawa selalu mencari hari baik maka perlu
dimintakan pertimbangan dari ahli penghitungan hari baik berdasarkan patokan
Primbon Jawa. Setelah ditemukan hari baik maka sebulan sebelum akad nikah,
secara fisik calon pengantin perempuan disiapkan untuk menjalani hidup
pernikahan, dengan cara diurut perutnya dan diberi jamu oleh ahlinya. Hal ini
dikenal dengan istilah diulik yaitu pengurutan perut untuk menempatkan rahim
dalam posisi yang tepat agar dalam persetubuhan pertama memperoleh keturunan,
dan minum jamu Jawa agar tubuh ideal dan singset.
2.2
Peranan Etiket Protokoler dalam prosesi Pernikahan
Adat Jawa
I.
TATA UPACARA
Sebelum pernikahan dilakukan, ada beberapa prosesi yang harus dilakukan,
baik oleh pihak laki-laki maupun perempuan. Menurut Sumarsono (2007), tata
upacara pernikahan adat Jawa adalah sebagai berikut :
maka sebulan sebelum akad
nikah, secara fisik calon pengantin perempuan disiapkan untuk menjalani hidup
pernikahan, dengan cara diurut perutnya dan diberi jamu oleh ahlinya. Hal ini
dikenal dengan istilah diulik yaitu pengurutan perut untuk menempatkan rahim dalam
posisi yang tepat agar dalam persetubuhan pertama memperoleh keturunan, dan
minum jamu Jawa agar tubuh ideal dan singset.
A.
BABAK I (Tahap
Pembicaraan)
Tahap pembicaraan antara pihak yang akan punya hajat mantu dengan pihak calon besan, mulai
dari pembicaraan pertama sampai tingkat melamar dan menentukan hari penentuan (gethok dina).
B.
BABAK II (Tahap
Kesaksian)
Babak ini merupakan peneguhan pembicaaan yang disaksikan oleh pihak ketiga,
yaitu warga kerabat dan atau para sesepuh di kanan-kiri tempat tinggalnya,
melalui acara-acara sebagai berikut :
1. Srah-srahan
Menyerahkan seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan
acara sampai hajat berakhir. Untuk itu diadakan simbol-simbol barang-barang
yang mempunyai arti dan makna khusus, berupa cincin, seperangkat busana putri,
makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih dan uang. Adapun makna dan maksud benda-benda
tersebut adalah :
a. Cincin emas
Cincin emas yang dibuat bulat tidak ada putusnya, maknanya agar cinta
mereka abadi tidak terputus sepanjang hidup.
b. Seperangkat
busana putri
Seperangkat busana putri bermakna masing-masing pihak harus pandai menyimpan
rahasia terhadap orang lain.
c. Perhiasan
yang terbuat dari emas, intan dan berlian
Perhiasan yang di maksud mengandung makna agar calon pengantin putri selalu
berusaha untuk tetap bersinar dan tidak membuat kecewa.
d. Makanan
tradisional
Makanan tradisional terdiri dari terdiri dari jadah, lapis, wajik, jenang;
semuanya terbuat dari beras ketan. Beras ketan sebelum dimasak hambur, tetapi
setelah dimasak, menjadi lengket. Begitu pula harapan yang tersirat, semoga
cinta kedua calon pengantin selalu lengket selama-lamanya.
e. Buah-buahan
Buah-buahan bermakna penuh harap agar cinta mereka menghasilkan buah kasih
yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.
f. Daun sirih
Daun ini muka dan punggungnya berbeda rupa, tetapi kalau digigit sama
rasanya. Hal ini bermakna satu hati, berbulat tekad tanpa harus mengorbankan
perbedaan.
2.
Peningsetan
Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan yang
ditandai dengan tukar cincin antara kedua calon pengantin.
3. Asok tukon
Hakikatnya adalah penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk membantu
meringankan keuangan kepada keluarga pengantin putri.
4. Gethok dina
Menetapkan kepastian hari untuk ijab
qobul dan resepsi. Untuk mencari hari, tanggal, bulan, biasanya dimintakan
saran kepada orang yang ahli dalam perhitungan Jawa.
C.
BABAK III (Tahap
Siaga)
Pada tahap ini, yang akan punya hajat mengundang para sesepuh dan sanak
saudara untuk membentuk panitia guna melaksanakan kegiatan acara-acara pada
waktu sebelum, bertepatan, dan sesudah hajatan.
1.
Sedhahan
Yaitu cara mulai merakit sampai membagi undangan.
2.
Kumbakarnan
Pertemuan membentuk panitia hajatan mantu, dengan cara :
a. pemberitahuan
dan permohonan bantuan kepada sanak saudara, keluarga, tetangga, handai taulan,
dan kenalan.
b. adanya
rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana.
c. mencukupi
segala kerepotan dan keperluan selama hajatan.
d. pemberitahuan
tentang pelaksanaan hajatan serta telah selesainya pembuatan undangan.
3. Jenggolan atau Jonggolan
Saatnya calon
pengantin sekalian melapor ke KUA (tempat domisili calon pengantin putri). Tata
cara ini sering disebut tandhakan atau
tandhan, artinya memberi tanda
di Kantor Pencatatan Sipil akan ada hajatan mantu, dengan cara ijab.
D.
BABAK IV (Tahap
Rangkaian Upacara)
Tahap ini bertujuan untuk menciptakan nuansa bahwa hajatan mantu sudah tiba. Ada beberapa acara
dalam tahap ini, yaitu :
1. Pasang tratag dan bleketepe
Pemasangan tratag yang
dilanjutnya dengan pasangtarub
digunakan sebagai tanda resmi bahwa akan ada hajatan mantu dirumah yang bersangkutan. Tarub dibuat menjelang acara inti. Adapun ciri kahs tarub adalah
dominasi hiasan daun kelapa muda (janur), hiasan warna-warni, dan kadang
disertai dengan ubarampe berupa
nasi uduk (nasi gurih), nasi asahan, nasi golong, kolak ketan dan apem.
2. Kembar mayang
Berasal dari kata kembar artinya bunga pohon jambe atau sering disebut
Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Jika pawiwahan telah selesai, kembar mayangdilabuh atau dibuang di perempatan
jalan, sungai atau laut dengan maksud agar pengantin selalu ingat asal muasal
hidup ini yaitu dari bapak dan ibu sebagai perantara Tuhan Yang Maha Kuasa.
Barang-barang untuk kembar mayang
adalah :
a. Batang pisang, 2-3 potong, untuk hiasan. Biasanya
diberi alas dari tabung yang terbuat dari kuningan.
b. Bambu aur untuk penusuk (sujen), secukupnya.
c. Janur kuning,± 4 pelepah.
d. Daun-daunan: daun kemuning, beringin beserta
ranting-rantingnya, daun apa-apa, daun girang dan daun andong.
e. Nanas dua buah, pilih yang sudah masak dan sama
besarnya.
f. Bunga melati, kanthil dan mawar merah putih.
g. Kelapa muda dua buah, dikupas kulitnya dan airnya
jangan sampai tumpah. Bawahnya dibuat rata atau datar agar kalau diletakkan
tidak terguling dan air tidak tumpah.
3. Pasang tuwuhan (pasren)
Tuwuhan dipasang di pintu masuk menuju tempat duduk pengantin. Tuwuhan
biasanya berupa tumbuh-tumbuhan yang masing-masing mempunyai makna :
a. Janur
Harapannya agar pengantin memperoleh nur
atau cahaya terang dari Yang Maha Kuasa.
b. Daun kluwih
Semoga hajatan tidak kekurangan sesuatu, jika mungkin malah dapat lebih (luwih) dari yang diperhitungkan.
c. Daun beringin
dan ranting-rantingnya
Diambil dari kata ingin artinya harapan, cita-cita atau keinginan yang
didambakan mudah-mudahan selalu terlaksana.
d. Daun dadap serep
Berasal dari suku kata arep artinya dingin, sejuk, teduh, damai, tenang
tidak ada gangguan apa pun.
e. Seuntai padi
(pari sewuli)
Melambangkan semakin berisi semakin merunduk. Diharapkan semakin berbobot dan
berlebih hidupnya, semakin ringan kaki dan tangannya, dan selalu siap membantu
sesama yang kekurangan.
f. Cengkir gadhing
Air kelapa muda (banyu degan),
adalah air suci bersih, dengan lambang ini diharapkan cinta mereka tetap suci
sampai akhir hayat.
g. Setundhun gedang raja suluhan(setandan
pisang raja)
Semoga kelak mempunyai sifat seperti raja
hambeg para marta, mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan
pribadi.
h. Tebu wulung watangan (batang tebu
hitam)
Kemantapan hati (anteping kalbu),
jika sudah mantap menentukan pilihan sebagai suami atau istri, tidak tengok
kanan-kiri lagi.
i. Kembang lan woh kapas (bunga dan buah
kapas)
Harapannya agar kedua pengantin kelak tidak kekurangan sandang, pangan, dan
papan. Selalu pas, tetapi tidak pas-pasan.
j. Kembang setaman dibokor (bunga
setaman yang ditanam di air dalam bokor)
Harapannya agar kehidupan kedua pengantin selalu cerah ibarat bunga di
taman.
4. Siraman
Ubarampeyang harus disiapkan berupa air bunga setaman, yaitu air yang diambil dari
tujuh sumber mata air yang ditaburi bunga setaman yang terdiri dari mawar,
melati dan kenanga. Tahapan upacara siraman
adalah sebagai berikut :
– calon pengantin mohon doa restu kepada kedua
orangtuanya.
– calon mantu
duduk di tikar pandan tempat siraman.
– calon pengatin disiram oleh pinisepuh, orangtuanya dan beberapa wakil yang ditunjuk.
– yang terakhir disiram dengan air kendi oleh bapak
ibunya dengan mengucurkan ke muka, kepala, dan tubuh calon pengantin. Begitu
air kendi habis, kendi lalu dipecah sambil berkata “Niat ingsun ora mecah kendi, nanging
mecah pamore anakku wadon”
5. Adol dhawet
Upacara ini dilaksanakan setelah siraman.
Penjualnya adalah ibu calon pengantin putri yang dipayungi oleh bapak.
Pembelinya adalah para tamu dengan uang pecahan genting (kreweng). Upacara ini mengandung
harapan agar nanti pada saat upacara panggih
dan resepsi, banyak tamu dan rezeki yang datang.
6. Midodareni
Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yaitu malam melepas masa lajang
bagi kedua calon pengantin. Acara ini dilakukan di rumah calon pengantin
perempuan. Dalam acara ini ada acara nyantrik
untuk memastikan calon pengantin laki-laki akan hadir dalam akad nikah dan
sebagai bukti bahwa keluarga calon pengantin perempuan benar-benar siap
melakukan prosesi pernikahan di hari berikutnya. Midodareni berasal dari kata
widodaren (bidadari), lalu menjadi midodareni yang berarti membuat keadaan
calon pengantin seperti bidadari. Dalam dunia pewayangan, kecantikan dan
ketampanan calon pengantin diibaratkan seperti Dewi Kumaratih dan Dewa
Kumajaya.
E. BABAK V (Tahap Puncak Acara)
1. Ijab qobul
Peristiwa penting dalam hajatan mantu
adalah ijab qobul dimana
sepasang calon pengantin bersumpah di hadapan naib yang disaksikan wali,
pinisepuh dan orang tua kedua belah pihak serta beberapa tamu undangan. Saat
akad nikah, ibu dari kedua pihak, tidak memakai subang atau giwang guna
memperlihatkan keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa menikahkan atau ngentasake anak.
1. Upacara panggih
Adapun tata urutan upacara panggih
adalah sebagai berikut :
a. Liron kembar mayang
Saling tukar kembar mayang
antar pengantin, bermakna menyatukan cipta, rasa dan karsa untuk mersama-sama
mewujudkan kebahagiaan dan keselamatan.
b. Gantal
Daun sirih digulung kecil diikat benang putih yang saling dilempar oleh
masing-masing pengantin, dengan harapan semoga semua godaan akan hilang terkena
lemparan itu.
c. Ngidak endhog
Pengantin putra menginjak telur ayam sampai pecah sebagai simbol seksual
kedua pengantin sudah pecah pamornya.
d. Pengantin
putri mencuci kaki pengantin putra
Mencuci dengan air bunga setaman dengan makna semoga benih yang diturunkan
bersih dari segala perbuatan yang kotor.
e. Minum air
degan
Air ini dianggap sebagai lambang air hidup, air suci, air mani (manikem).
f. Di-kepyok dengan bunga warna-warni
Mengandung harapan mudah-mudahan keluarga yang akan mereka bina dapat
berkembang segala-galanya dan bahagia lahir batin.
g. Masuk ke pasangan
Bermakna pengantin yang telah menjadi pasangan hidup siap berkarya
melaksanakan kewajiban.
h. Sindur
Sindur atau isin mundur, artinya pantang menyerah atau pantang mundur. Maksudnya
pengantin siap menghadapi tantangan hidup dengan semangat berani karena benar.
Setelah melalui tahap panggih, pengantin diantar duduk di sasana riengga, di sana dilangsungkan tata upacara adat Jawa,
yaitu :
i. Timbangan
Bapak pengantin putri duduk diantara pasangan pengantin, kaki kanan
diduduki pengantin putra, kaki kiri diduduki pengantin putri. Dialog singkat
antara Bapak dan Ibu pengantin putri berisi pernyataan bahwa masing-masing
pengantin sudah seimbang.
j. Kacar-kucur
Pengantin putra mengucurkan penghasilan kepada pengantin putri berupa uang
receh beserta kelengkapannya. Mengandung arti pengantin pria akan bertanggung
jawab memberi nafkah kepada keluarganya.
k. Dulangan
Antara pengantin putra dan putri saling menyuapi. Hal ini mengandung kiasan
laku memadu kasih diantara keduanya (simbol seksual). Dalam upacara dulangan ada makna tutur adilinuwih (seribu nasihat yang
adiluhung) dilambangkan dengan sembilan tumpeng yang bermakna :
– tumpeng tunggarana
: agar selalu ingat kepada yang memberi hidup.
– tumpeng puput
: berani mandiri.
– tumpeng bedhah
negara : bersatunya pria dan wanita.
– tumpeng sangga
langit : berbakti kepada orang tua.
– tumpeng kidang
soka : menjadi besar dari kecil.
– tumpeng pangapit
: suka duka adalah wewenang Tuhan Yang Maha Esa.
– tumpeng manggada
: segala yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi.
– tumpeng pangruwat
: berbaktilah kepada mertua.
– tumpeng kesawa
: nasihat agar rajin bekerja.
2.
Sungkeman
Sungkeman adalah ungkapan bakti kepada orang tua, serta mohon doa restu.
Caranya, berjongkok dengan sikap seperti orang menyembah, menyentuh lutut orang
tua pengantin perempuan, mulai dari pengantin putri diikuti pengantin putra,
baru kemudian kepada bapak dan ibu pengantin putra.
Setelah tahapan tersebut selesai biasanya akan
langsung dilanjutkan dengan acara resepsi yaitu hiburan dan makan makan.
Comments
Post a Comment